Info Penting untuk Develop Game

kreativitas-dunia

Tepat hari Jumat, 17 Januari 2014, Arief Widhiyasa CEO Agate Studio mendapat kesempatan untuk berbicara mengenai Develop Game di Kick Andy Show. Bagi yang tidak sempat menonton, bisa lihat review dan video nya kembali.

Sejak saat itu, Agate Studio mendapat banjiran pertanyaan. Jawaban-jawaban pertanyaan sebenarnya sudah pernah dimuat di media Agate Studio, namun tidak ada salahnya kami mencoba merangkumnya kembali.

SIAPA SAJA YANG TERLIBAT DALAM PEMBUATAN GAME DI AGATE STUDIO?

Dalam pembuatan game, terdapat beberapa pihak yang berperan sebagai Developer dan Pendukung. Bisa cek di SINI untuk jelasnya.

Nah, selain itu, Agate Studio juga pernah membahas lebih detail untuk masing-masing posisi.

PLATFORM APA YANG DIGUNAKAN AGATE STUDIO DALAM MEMBUAT GAME?

Secara general, ada beberapa platform yang digunakan dalam develop game

BAGAIMANA CARA MENDAPATKAN UANG DARI GAME?

Dalam develop game, ada beberapa sumber untuk mendatangkan uang. Sumber-sumber tersebut bisa dibaca :

APAKAH AGATE STUDIO MENYELENGGARAKAN KURSUS MEMBUAT GAME?

Hingga tulisan ini dibuat, Agate Studio belum menyelenggarakan kursus membuat game. Namun tenang, Agate Studio sudah memuat beberapa materi pembuatan game yang bisa kamu baca kembali.

Contoh video tutorial seperti ini :

Jika ada yang lebih penasaran bagaimana Agate Studio, juga dapat dilihat video :

Segitu dulu postnya, mudah-mudahan bermanfaat yaa.

Merry Christmas from Agate!

Tepat hari Selasa (17/12), Agate Studio merayakan natal di kantor Agate Studio. Menurut panitia, diadakan natal adalah karena natal dirayakan bersama keluarga, dan Agate Studio adalah keluarga kedua.

Perayaan natal kali ini pun dikemas unik. Peserta melakukan rangkaian acara diringi narasi tokoh. Pada cerita tersebut, peserta acara akan ikut mengiringi narasi, mulai dari nyanyian hingga penyalaan lilin malam kudus.

Ceritanya adalah ketika seorang pemuda bernama Axel merutuki kekurangan hartanya. Axel tidak berpekerjaan, namun senang menolong orang di sekitarnya. Axel menginginkan Ia mempunyai harta yang banyak agar dapat mempersembahkan kepada Tuhan Yesus lebih banyak lagi. Namun, ketika sampai di rumah, ia mendapati bingkisan di depan rumahnya, dan ternyata isinya malaikat.

Malaikat tersebut membawa Axel kepada cerita mengenai tukang arloji yang sangat miskin bernama Herman Joseph. Herman tidak mampu memberi apapun ke patung Bunda Maria yang tengah menggendong Yesus, seperti tradisi masyarakat di kotanya. Masyarakat di kotanya berlomba-lomba untuk memberikan hadiah terbaik ke patung Bunda Maria yang menggendong Yesus tersebut karena legenda mengatakan bahwa tangan Yesus akan dapat terulur pada hadiah yang diberikan padanya, jika Yesus menyukainya.

Sekalipun miskin, Herman tidak surut membantu orang-orang di sekitarnya. Herman sering membantu membetulkan mainan anak-anak di sekitar rumahnya dan tidak mau menerima bayaran se sen pun. Herman pun tidak menurunkan semangatnya untuk membuat persembahannya kepada Yesus. Herman memilih membuat jam dinding. Setiap bagian dikerjakan dengan hati-hati dan teliti. Akibat Herman mengerjakan jam dinding itu terus menerus, Herman tidak sempat membuat jam lain untuk dijual. Herman pun sering tidak makan.

Bertahun-tahun kemudian, ketika jam dinding itu selesai dan sudah siap sebagai hadiah natal, Ia bertemu tetangganya. Tetangganya mengatakan tidak punya uang untuk merayakan natal karena uangnya sudah habis, kepala keluarga tersebut terkena kecelakaan dan harus dirawat di RS. Herman kemudian berjanji membantu tetangganya dengan menjual arloji lama yang Ia punya.

Akan tetapi, orang yang Herman tuju untuk membeli arlojinya itu justru lebih ingin jam dinding yang sudah Herman siapkan bertahun-tahun itu. Herman kemudian merelakan jam dinding dibeli orang tersebut. Herman kemudian menyerahkan seluruh uangnya untuk tetangganya. Karena tidak punya apa-apa lagi, Herman kemudian hanya membawa apel untuk diletakkan di bawah patung Bunda Maria. Apel adalah satu-satunya makanan yang Ia punya. Dan mukjizat, patung Yesus mengulurkan tangannya untuknya.

Karena cerita itu, Axel menyadari kesalahannya karena Ia sempat merutuki kekurangannya. Sebagai umat-Nya, kita harus saling tolong menolong kepada sesama dengan kemampuan kita yang ada.

Narasi itu kemudian diisi dengan nyanyian-nyanyian peserta Natal seperti lagu Mary’s Boy Child, Jingle Bell, First Noel, Joy To The World, Malam Kudus, dan Gloria.

Acara Natal tersebut kemudian dilanjutkan dengan beberapa games, dan tukar kado.

Selamat Natal, everyone! -Fa

Sekelumit Tips Arief Widhiyasa

Selasa lalu, 17 Desember 2013, CEO Agate Studio diundang ke Hotel Mutiara. Acara yang diselenggarakan LP3I itu, membawa tema “Meretas Peluang menjadi Entrepreneur Sukses melalui Game Mobile Development.”

Berikut rangkuman tipsnya dari twitter Agate Studio

Entrepreneur_name.154100112_std

Pd sharing d LP3I, Arief Widhiyasa menybutkn knp bidng game pny potensial market, krn pd akhirny mulai dr ank2 hingga lansia akn brmain game.

Revenue yg di dapatkan dari game ada 4 cara, yaitu Retail Sales, Advertising, Sponsorship, dan Micro Transactions.

Menjadi entrepreneur bukan untuk mencari uang, namun menjadi pemecah masalah untuk masalah2 di sekitar kita. Berangkatlah dari masalah itu.

Menurut Arief, kenapa game, karena elemen reward/positif di kehidupan nyata kurang, sehingga game adl u/ dunia lebih bahagia.

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menjadi entrepreneur adalah Market, Talent, Capital, dan Development.

Integritas pada Tuhan, Integritas pada Orang Tua, Setia pada Pasangan, Integritas pada Bisnis, dan Senyum alh modal mental entrepreneur

Kultwit tentang Agate Studio

Berikut ini spesial kultwit dari Kewirausahaan KM ITB @EntrepKMITB https://twitter.com/EntrepKMITB tentang Agate Studio

Yuk duduk manis.

Agate Studio didirikan oleh 18 orang founders. Salah satunya Kak Arief ini. Sbg gambaran, semenjak didirikan tahun 2009 lalu, Agate telah menjadi Studio Game terbesar di Indonesia! Agate memiliki 75 org karyawan saat ini, mengusung ‘Live the fun way’ sbg motto mereka

Motto ini didasarkan pada visi yang ingin membuat semua orang merasa senang seperti apa yang mereka rasakan ketika bermain video game :)

Bahkan visi ini merasuk sampai ke bagaimana Agate merekrut staff baru. Selain skill, tapi juga harus ada kesamaan visi

Agate skrg juga bekerjasama dengan Square Enix. Pasti tau doong? Itu loh yang buat game Final Fantasy. *Mimin tau krn suka ngegame hehe

Beliau menyampaikan bahwa pasar game dunia sangat potensial karena memiliki revenue bahkan 3x Industri holywood!

Kok bisa? Karena rata-rata production cost sebuah film jauh lebih tinggi dari game. Sementara revenue 1 minggu setelah launch sebuah game rata-rata lebih tinggi dari film sekelasnya. Belum lagi sebuah game sangat mudah dimonetisasi dan di’extension’kan

Jadi, mungkin sekarang pertanyannya siapa sih yang ga suka main video game :) . Dari anak sampai dewasa ada pasarnya beliau menuturkan

Meski sering dicap negatif, dgn bermain game akan tercipta suasana yg menyenangkan sehingga proses mempelajari sesuatu lebih efektif, bahkan dapat menjadi sarana pembelajaran. Juga dapat menjadi media interaksi orang dewasa dan anak

Banyak juga perusahaan yang minta dibuatkan games sebagai media training karyawannya agar materi lebih mudah dimengerti

Karya-karya Agate adalah Football Saga, Cube Colossus, Up in flames dkk.

Suasana kerja di kantornya dibuat sangaat menyenangkan, seperti mottonya. Coba aja nih cek http://www.youtube.com/watch?v=OGKcMj2-6sg

Modalnya dulu gimana? Patungan! Dari foundersnya sampai terkumpul utk sewa rumah yang dijadikan sebagai kantor

Tp setelah punya kantor sebetulnya pun tidak dgn mudahnya start-up lgsg ‘jalan’. Kebingungan ga ada proyek smp karyawan digaji $5 saja

Dulu pun timnya tidak ‘balance’. Ga ada yg ngerti bisnis bahkan, kebanyakan di programmer. Hingga kondisi kritis masih hire staff

Menariknya, byk yg mau join menjadi Artist & staff lainnya. Digaji minim. Bukti bahwa Gaji bkn segalanya. Lalu mereka berkembang pesat!

Bila ada konflik internal, Agate mempercayakan keputusan akhir pada satu orang pemilik 51% modal. Sehingga bila ada founder yang keluar, kapal induk Agate dapat tetap berlayar. Prinsipnya, selamatkan perusahaan terlebih dahulu

Agate memiliki tim yang terspesialisasi di berbagai platform game yang mereka kembangkan seperti iPhone, Android, facebook dll

Intinya keren banget Game Studio yang satu ini. Semoga semakin byk alumni ITB yang menempuh jalur Technopreneur :) spt CEO @AgateStudio ini

Terakhir, kata-kata pamungkas dari Bapak Dwi Larso, pendiri CIEL SBM. “Arief ini tidak lulus dari ITB. Yang tidak lulus saja bisa menghasilkan karya luar biasa seperti ini. Harusnya kalian juga bisa”. “Lulus belum tentu belajar. Yang terpenting adl terus belajar”

Sekian kultwit malam ini. Semoga lebih banyak lagi technopreneur-technopreneur seperti beliau :)

AMIN

startup-infographic

Anatomi Startup Perusahaan Teknologi oleh founderspeak.com 2011

Agate Studio di Pekan Kreatif Indonesia

Pekan Kreatif

Pekan lalu, mulai Jumat (29/11) hingga Minggu (1/12), Agate Studio aktif dalam kegiatan Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia di Epicentrum Walk (Epiwalk), JL. H. R. Rasuna Said, Jakarta. Mengusung tema PPKI Indonesia Creative Power 2013 Kreatif Berdaya Saing, Agate Studio yang diwakili oleh Arief Widhiyasa, CEO Agate Studio, mengikuti acara-acara yang diadakan bergiliran di café-café yang berbeda.

Seperti pada Jumat (29/11), acara yang diberikan sub topik “Create the next Indonesia Digital Citizen” diadakan di Comic Café. Comic Café dengan dekorasi unik dan fun karena menggunakan berbagai tokoh komik untuk ornamen-ornamen ruangnya menjadi hangat dengan diskusi-diskusi yang berkembang oleh praktisi seperti Founder Kaskus Andrew Darwis, pakar Teknologi Informasi Richardus Eko Indrajit, dan Founder DailySocial.net Rama Mamuaya yang menjadi moderator.

Sesekali Perwakilan Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI) Hari S. Sungkari, Direktur Kerja Sama dan Fasilitasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Lolli Amalia Abdullah, dan Arief Widhiyasa menambahkan diskusi menjadi kesimpulan yang menarik mengenai kekurangan industri IT Kreatif Indonesia, Infrastruktur dan Ekosistem. Jumat malam, di tempat yang sama, hadir Budiono Darsono yang semangat menceritakan perjalanan beliau membesarkan Detik.com dan sering mengundang tawa dari bangku penonton karena gaya jenaka beliau bercerita.

Masuk hari Sabtu (30/11), bertempat di Talaga, Arief Widhiyasa dan Co-Founder Main Studios Marlin Sugama menjadi moderator di diskusi bertema “Connecting The Puzzle to Create A Better Game Industry“. Hadir Founder Duniaku.net Ami Raditya perwakilan media, Presiden Asosiasi Game Indonesia (AGI) Andy Suryanto perwakilan Industri Game, Hari S. Sungkari, dan Lolli Amalia perwakilan pemerintah menjadi narasumber pada acara ini.

Pada sesi ini, disimpulkan kurangnya komunikasi antara pelaku industri game seperti developer game, publisher game, dan pemerintah menjadi sumber penghambat perkembangan industri kreatif game Indonesia. Oleh sebab itu, semua menjadi sepakat bahwa forum seperti PPKI maupun wadah seperti AGI akan mampu mendukung perkembangan industri game Indonesia. Pada kesempatan saat ini juga, Hari S. Sungkari membagi hal-hal positif didaftarkannya hasil karya untuk mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Turunan HAKI ini seperti copyright yang dapat berlaku 50 tahun, trademark berlaku 10 tahun, desain industri berlaku 10 tahun, rahasia dagang, dan paten berlaku 20 tahun.

Kemudian, hari terakhir yaitu hari Minggu (1/12), Arief Widhiyasa mempresentasikan Agate Studio di Mango Tree Café. Hal ini juga dilakukan oleh berbagai developer game untuk mempresentasikan perusahaan maupun produk game terbaru mereka, salah satunya Altermyth yang sudah 10 tahun berdiri. Audiens dari diskusi tema “Global, Antusiasm, Merchandise, Expanding” ini dari berbagai kalangan, termasuk siswa.

Marlin Sugama yang kembali menjadi moderator sempat mengundang beberapa developer produk TI yang tergolong baru, untuk mempresentasikan hasil kreasi mereka. Salah satunya adalah Eldwin Viriya dari Own Games, yang mempresentasikan Eyes on Dragon – Action adventure game for Nokia Lumia WP8 smartphones. Hasil presentasi tersebut kemudian dinilai oleh juri seperti dari Adways Indonesia, Altermyth, Touchten, dan juga Agate Studio. Acara kemudian di tutup di panggung utama PPKI. Arief Widhiyasa sempat diundang oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu untuk berbicara di atas panggung.

Menyenangkan dan tentunya ilmu sangat berlimpah. Jadi, sampai jumpa di PPKI berikutnya ya! -Fa

« Older Entries Recent Entries »